Author: Fadel / Ledaf

  • Nyoman Aji – Pias Agra 1.5

    Nyoman Aji – Pias Agra 1.5

    IMG_1680
    PlayPause
    IMG_1680
    IMG_1733
    IMG_1736
    IMG_1729
    IMG_1702
    IMG_1709
    IMG_1724
    IMG_1722
    previous arrow
    next arrow

    Mungkin sepeda merah tersebut sering berseliweran di akun Instagram lo. Pias Agra 1.5 kepunyaan Mas Nyoman/Aji tersebut memiliki warna merah mencolok bernama Elitist Red. Colorway tersebut memang langka, bahkan bisa dipastikan tidak akan muncul di forum jual beli mana pun. Pemilik brand Pias sengaja mengkhususkan Elitist Red bagi beberapa orang saja. Contohnya, Mas Aji, setelah memenangkan Selfiecat 2019 dan membawa pulang Pias Agra 1.5 warna hitam, ia ditawari untuk menukarkannya lewat Pias merah sebagai langkah untuk merepresentasikan Pias serta Agra 1.5.

    1.5? Yap betul. Agra tersebut adalah versi pembaruan dari generasi pertama. Saat sesi tanya jawab, gue menanyakan perbedaan antara versi 1 dan 1.5. Jawaban darinya, Agra 1 agak mirip geometri road bike: top tube panjang serta kemiringan steer rack lebih miring, tetapi memiliki dropout sliding khas track bike. Sedangkan Agra 1.5 dibangun berbasis geometri mirip sepeda keirin, yaitu memiliki segitiga belakang dan depan lebih rapat. Kemiringan steer rack lebih tegak membuat frame tersebut lebih agresif serta snappy. Top tube-nya lebih pendek dan agak pursuit. Betul, ‘agak’ pursuit, karena menurutnya frame pursuit murni terasa lebih berat di depan sehingga handling-nya kurang enak akibat bobot pengendara berpindah ke depan. Maka dari itu, desain semi-pursuit dipilih supaya handling masih relatif nyaman.

    Tetapi, frame tersebut bukan entitas standalone penentu beliau selalu merobek karet pembungkus wheelset. Faktor lainnya adalah rasio pilihan; ia menggunakan rasio ngicik 42:15. Selain lebih ringan saat dikayuh, rasio 2.8 tersebut juga relatif lebih mudah di-backpedal guna menghindari obstacle di jalanan ibu kota.

    Setelah bergabung menjadi representatif dari Sakra, ia memilih menggunakan Sakra Kanta 42T. Chainring tersebut belum pernah diganti sejak 2022 setelah menghadiri acara FXCX. Usai memakai sepeda tersebut sebagai tracklocross berbekal cog belakang lebih besar, ia menggantinya menggunakan Sakra Karih 15T demi mendapatkan rasio mirip 47:17.

    Bagian drivetrain lainnya juga mengandalkan komponen badak siap di-abuse tanpa ampun. Izumi Super Toughness, rantai yang sudah mendeskripsikan namanya sendiri, serta Omnium Silver. Crank tersebut terbukti mampu menahan tenaga brutal jauh dari apa yang lo bayangkan sejak 2012.

    Genap 14 tahun di 2026 sejak beliau masuk ke skena fixie, banyak komponen memiliki nilai sentimental baginya. Seperti toe clip tersebut; sejak pertama kali Mas Aji belajar skid, foot retention tersebut menjadi pilihan utama. Pedalset tersebut sekaligus menjadi self-reminder: “never forget when you started riding fixedgear”, kelas bang!

    Enggak cuma toe clip, tapi handlebar bullhorn juga punya nilai sentimental sama buat Mas Aji. Syntace Strattos tersebut sudah jadi incaran beliau sejak lama, menggantikan Nitto RB021 serta Nitto RB010aa miliknya. Dipadukan stem Soma dan seatpost unbrand non-setback, membuat fitting-an pada Agra 1.5 berukuran 50 tersebut tampil agresif sekaligus tetap nyaman menurutnya.

    Selle Italia Turbo posisi super maju tersebut juga termasuk dalam perhitungan ,-an. Selain itu, menurut Mas Aji, posisi seperti itu membuat railing tidak mudah patah lagi seperti San Marco Concor Supercorsa kesayangannya. Meskipun bentuk kedua sadel mirip, beliau sempat skeptis Selle Italia Turbo. Namun karena harga Concor semakin gelap, Turbo menjadi pilihan pengganti. Sekarang, Turbo tersebut menjadi support nomor wahid untuknya.

    Selanjutnya, ke bagian kaki-kaki. Mas Aji menggunakan Rollci R18 Track Hub bersama Rims Rollci GRA21. Ia mendapatkan wheelset tersebut dari Hyper Bike Store untuk keperluan pengujian serta marketing produk. Rims low profile spesifikasi gravel dipadukan hub low flange tersebut terbukti mampu menahan abuse darinya. Untuk karet melingkarnya, ia menjatuhkan pilihan ke Gatorskin di belakang. Menurutnya, cuma ban itu yang mampu menahan joroknya skid beliau. Di depan, ia memasang Conti Ultra Race berkarakter compound mirip GP5K sehingga sangat nge-grip, tetapi ban tersebut kurang durable jika diajak skid. Maka dari itu, ia memasangnya di wheelset depan.

    Dan, begitulah racikan logam dan karet dari Mas Nyoman untuk tunggangan kesayangannya tempurnya. Keputusannya untuk membangun Agra 1.5 ini dengan komponen yang tangguh pada eranya membuatnya menjadi timeless dan bombproof sesuai dengan kebutuhannya. Hope this rig will survive another decade bombing Jakarta Traffic !

    Frame : Pias Agra 1.5 Elitist Red Size 50
    Fork : Stock
    Headset : Chris King No Threadset
    Handlebar : Syntace Strattos
    Stem : Soma SF Forged road Stem
    Bartape : Ritchey
    Crank : Sram Omnium 165mm
    Chainring : Sakra Kanta Track 42T
    Bottom Bracket : Sram GXP
    Pedalset : MKS Sylvan Track + CKC strap + Mash double cage
    Chain : Izumi V Toughness
    Wheelset : Rollci R18 low flange + Rollci GRA21
    Cog : Sakra Karih 15T
    Lockring : Sakra Karambit
    Saddle : Selle Italia Turbo
    Seatpost : Unbrand
    Seat Binder : Stock

    Foto oleh: Fadel Muzakki
    Artikel oleh: Fadel Muzakki

    #trackbike , #fixie , #pias , #sakra , #agra , #rollcii

  • Hi / Hello

    Hi / Hello

    Halo warga, selamat datang di “Rumah” baru kami. Setelah beberapa bulan melakukan bike check pada medium blog, akhirnya kami berpindah sangkar ke domain (dot)com . Dengan demikian, artikel-artikel yang gue buat akan lebih mudah ditemukan di internet karena alamat yang dituju lebih mudah dihafal dan dicari.

    Sebelumnya gue mau berterima kasih ke kawan gue Ridwan dari Fixie Fans yang udah menawarkan gue untuk migrasi ke media yang lebih besar dari sebelumnya. Jadi, buat teman-teman semua yang ingin membuat media serupa untuk kebutuhan personal atau komersial bisa hubungin Ridwan.

    Past

    “What happens in Vegas, stays in Vegas”

    Seluruh artikel yang sebelumnya sudah pernah tayang di https://metal-and-rubber.blogspot.com/ akan selamanya tetap di sana dan enggak gue imigrasikan ke sini. Gue membiarkan semua artikel itu jadi ‘memoir’ dari proses gue content-creating di dunia sepeda.

    MnR_7109
    PlayPause
    MnR_7109
    MnR_7169
    MnR - Ridho - Super Pista 130th - 1123
    MnR - 1351
    MnR - 1413
    MnR - 1465
    previous arrow
    next arrow

    Beberapa waktu lalu, gue sempet ketemu dengan Mas Gibran /@woofjkt yang sudah lebih dulu jadi blogger / content creator . Imigrasi ini juga pernah Masgib lakukan. Menurutnya, lebih baik tetap membiarkan artikel yang sudah tayang tetap ada di blog. Selain lebih efektif, hal ini juga membuat sangkar baru ini menjadi memiliki ruang kosong untuk banyak hal-hal baru.

    Present

    Gue akan tetap melakukan bike check dari sepeda temen di web ini. Beberapa sudah siap tayang, dan beberapa masih dalam tahap penulisan artikel.

    Berikut beberapa sepeda yang sudah ada di antrian :

    IMG_1672
    PlayPause
    IMG_1672
    IMG_1757
    Relipit26- 4795
    IMG_4900
    IMG_4974
    previous arrow
    next arrow

    Future

    Selama membuat artikel bike check , gue ngerasa akan lari di tempat kalau web ini cuma memuat hal itu aja. Akan ada kemungkinan kalau ke depannya Metal and Rubber akan memuat informasi soal liputan dari acara yang gue hadiri, mengulas fotografi dalam dunia sepeda, dan beberapa kemungkinan berita lainnya yang masih bersangkutan dengan sepeda.

    Gue sangat terbuka untuk berkolaborasi dalam bentuk apa pun selama berkaitan dengan scene sepeda. Kalau ada yang tertarik silahkan menghubungin kami via DM instagram atau email ke metalandrubber.id@gmail.com

    🖋️: Fadel Muzakki
    📸 : Fadel Muzakki