Category: Bike Check

  • Dalu Kusma – Engine 11 Dirtee

    Dalu Kusma – Engine 11 Dirtee

    Relipit26- 4795
    PlayPause
    Relipit26- 4795
    Relipit26- 4800
    Relipit26- 4803
    Relipit26- 4802
    Relipit26- 4825
    Relipit26- 4818
    Relipit26- 4813
    Relipit26- 4814
    Relipit26- 4839
    previous arrow
    next arrow

    Pengkaryaan Mas Dalu selalu bermain-main di area yang menjadi kontradiksi antara “kesementaraan” dan “ketidaksementaraan”, antara “yang sesaat” dan “yang terus ada”, antara “yang tidak terencana” dan “yang direncanakan”, antara “yang sampingan” dan “yang utama”, antara “tampilan yang tampak realistis” dan “tampilan yang dipersiapkan”, antara “visual yang tampak tanpa gaya” dan “visual yang dibuat dengan penggayaan kreatif”. Tapi itu sedikit berbanding terbalik ketika ia membangun sepeda gravel-nya, Engine 11 Dirtee.

    Sepeda ini ia bangun pada tahun 2017, karena cedera ankle membuatnya jadi kurang nyaman fixie-an ke mana-mana. Di tahun segitu, genre gravel dan cyclocross memang lagi naik-naiknya, jadi frame ber-tire clearance up to 38C sangat memikat buat beliau. Ukuran segitu ngebuat ia jadi pede gowes ke daerah yang memiliki terrain lebih ancur dari jalanan ibu kota menjadi masuk akal. 

    Memutuskan untuk menggunakan Sram Rival 1 di sektor grupset, jadi memiliki konfigurasi pas untuk ‘trabasan’. Mengingat 1 chainring di depan bikin tanah enggak gampang ngeganjel.  Awalnya, grupset ini menggunakan sprocket road yang memiliki teeth jump lebih rapat. Tetapi saat direyen ke medan cuma di daerah Malasari, rasionya kurang enteng saat digowes. Maka dari itu digunakan sprocket berukuran 11-45 di belakang supaya dapet rasio < 0,99 alias lebih enteng pas diinjek.

    Masuk ke bagian kaki-kaki, beliau sedikit memperhatikan aspek kekuatan supaya bisa sembrono, tapi enggak bad trip. H+son Archetype 32 hole dirangkai dengan hub White Industries ber-finishing anodisasi ungu sama persis seperti headset dan bottom bracket. Awalnya seat clamp juga menggunakan WI, tetapi karena crack, ditukar menjadi Phil Seat Clamp. Karet melingkar beliau menggunakan Simworks Homage berkelir Hijau muda, mengkomplementer komponen warna ungu. Waktu ngobrol, Mas Dalu bener-bener yakin kalo dia memilih ban karena warnanya, bukan spesifikasi atau performa yang ditawarkan. Sungguh nyeni!

    Enggak nyampe situ aja, bagian bartape juga dibalut bartape cotton pink dan ungu. Kalo ditanya nyaman atau enggak, jawabannya pas. Pas digenggaman karena enggak terlalu bulky dan material cotton juga menyerap keringat kalau beliau gowes dari Depok ke J-Town. Membungkus Deda Super Zero yang terangkai ke stem Thomson. Stem ini memiliki kasus serupa seperti seat clamp, yaitu : crack. Sepertinya, beliau having too much fun sama E11 Dirtee.

    Saat ini tunggangannya menjadi salah satu karya yang dibangun dari gabungan logam berwarna ungu dan karet berwarna hijau toska. Sebuah seni eksperimental, mengutamakan aspek keselamatan dan keselarasan. Sebuah pilihan bijak untuk  menggabungkan mesin pasca-cedera bersama estetika visual.

    Frame : Engine 11 Dirtee
    Fork : Stock
    Headset : White Industries
    Dropbar : Deda Zero 1
    Stem : Thomson X4
    Saddle : Selle Italia Flite
    Seatpost : Thomson Elite
    Seat Clamp : Phil
    Groupset : Sram Rival 1
    Chainring : Sakra Kanta NW 42T
    Bottom Bracket : White Industries
    Pedal : Crank Brothers Candy 3
    Brake Caliper : TRP Spyre
    Wheelset : White Industries XMR to H+Son Archetype
    Tire : Simworks Homage 700x43C
    Frame bag : Sat Set

    Foto oleh : Fadel Muzakki
    Artikel oleh : Fadel Muzakki


    #gravelbike ; #cyclocrossbike ; #engine11 ; #dirtee ; #sakra ; #sramrival1 ; #simworks ; #thomson ; #whiteindustries

  • Karfianda Suryoutoro – Tsunami SNM 100

    Karfianda Suryoutoro – Tsunami SNM 100

    IMG_1757
    PlayPause
    IMG_1757
    IMG_1823
    IMG_1776
    IMG_1842
    IMG_1837
    IMG_1790
    IMG_1814
    IMG_1846
    IMG_1820
    previous arrow
    next arrow

    Bertahun-tahun menggunakan frame berbahan steel membuat Karfianda, atau kita semua lebih mengenal beliau lewat sapaan akrab Bang Toyor, penasaran terhadap performa rangka aluminium. Pada 2021, ia mendapatkan frame aluminium pertamanya, yaitu Tsunami SNM 100 ini. Dibangun dari material double-butted 6061 yang cukup ringan serta lebih stiff, frame tersebut awalnya dijadikan sebagai sepeda nge-loop.

    Tetapi karena menurutnya memiliki dua sepeda di saat bersamaan kurang praktis, ia pun mengalihfungsikan loop machine-nya menjadi tunggangan andalan performa, long ride, nanjak tipis-tipis ke Bogor, commuting #karir, dan tentu saja: gowes ngopi. Tujuan yang berubah demi menyesuaikan kebutuhan, turut diikuti oleh penggantian kombinasi rasio.

    Mulai dari 52/17 ke 52/19, lalu mengganti chainring berukuran lebih kecil menjadi 49/19, hingga rasio saat ini yaitu 47/19. Menurutnya, rasio 2,47 cukup memenuhi kebutuhannya membawa tas top tube, dua bidon berukuran 750 ml dan 850 ml, serta rak pannier berisikan seperangkat alat V60.

    Menurut gue, penggunaan rak pannier yang dikombinasikan bersama rem adalah pilihan #bijak. Karena ban belakang tertutup oleh barang bawaan, dog skid menjadi mustahil dilakukan. Tapi, berkaca dari informasi sang pemilik, penggunaan rem sudah lama ia lakukan semenjak touring Jakarta–Lombok pada 2013 lalu. Berbekal pengalaman safety sebelumnya, ia memilih menggunakan rem demi mendukung aktivitas looping KPR (Komunitas Pemburu Roadbike).

    Bagian brake lever, ia memercayakan Shimano Adamas AX BL-AD10. Kelir rubber hood berwarna abu-abu menjadi alasan utamanya memilih komponen tersebut, supaya senada bersama wheelset Paul x Velocity Deep V miliknya. Sebagai fotografer, beliau pasti mementingkan aspek estetika dari fixie-nya.

    Setelah terbungkus patina yang meninggalkan kenangan pada setiap putarannya, ia sangat puas terhadap wheelset miliknya. Menurut ulasannya, Paul Track hub terasa halus banget setelah break-in, mirip hub legendaris Phil Wood. Dirangkai menggunakan rims yang memiliki brake line, sepasang roda tersebut menggantikan wheelset #performa lamanya sebagai commuter harian.

    Conti GP Classic berukuran 700×25 menjadi karet pilihan untuk menyelimuti rims tersebut. Dari ulasannya, ban selebar 25c mampu menopang rak Topeak Tetrarack R2 yang diisi gembok, baju ganti, serta keperluan nyeduh. Berbekal setup seperti itu, SNM 100 miliknya benar-benar mirip kendaraan bermotor. Terlebih, penambahan spion pada handlebar bertujuan biar gak perlu nengok-nengok lagi kalau mau belok.

    Perintilan estetika paling penting di SNM milik Bang Toyor, buah tangan dari istrinya. Yang mau samaan sabi cek instagram nya : @simpulan__

    Frame : Tsunami SNM 100 size 58
    Fork : Stock
    Headset : Stock
    Dropbar : Uno 440mm
    Stem : Uno
    Bartape : Brooks
    Brake Lever : Shimano Adamas
    Brake Caliper : Tektro
    Crank Arm : Stronglight 2000 Track
    Bottom Bracket : Tange Seiki
    Chainring : Sakra Kanta Track 47T
    Pedal : MKS Sylvan Track
    Cage : MKS Nylon Double Gate
    FnR Wheelset : Paul Track Hub to Velocity Deep V
    Fnr Tire : Continental Grand Prix Classic
    Cog : Lasco 19T
    Saddle : Selle Italia 1980 Turbo
    Seatpost : Nitto Jaguar SP72 Jaguar
    Bottle Cage : Supacaz
    Front Lamp : Cateye AMPP 800
    Handlebar Bag : Riverside Handlebar Bag
    Frame Bag : Fairweather : X Pac
    Rear Rack : Topeak Tetrarack Rear R2

    Foto oleh: Fadel Muzakki
    Artikel oleh: Fadel Muzakki


    #trackbike , #commuterbike , #fixie , #tsunami , #snm100 , #sakra , #paulcomponent

  • Nyoman Aji – Pias Agra 1.5

    Nyoman Aji – Pias Agra 1.5

    IMG_1680
    PlayPause
    IMG_1680
    IMG_1733
    IMG_1736
    IMG_1729
    IMG_1702
    IMG_1709
    IMG_1724
    IMG_1722
    previous arrow
    next arrow

    Mungkin sepeda merah tersebut sering berseliweran di akun Instagram lo. Pias Agra 1.5 kepunyaan Mas Nyoman/Aji tersebut memiliki warna merah mencolok bernama Elitist Red. Colorway tersebut memang langka, bahkan bisa dipastikan tidak akan muncul di forum jual beli mana pun. Pemilik brand Pias sengaja mengkhususkan Elitist Red bagi beberapa orang saja. Contohnya, Mas Aji, setelah memenangkan Selfiecat 2019 dan membawa pulang Pias Agra 1.5 warna hitam, ia ditawari untuk menukarkannya lewat Pias merah sebagai langkah untuk merepresentasikan Pias serta Agra 1.5.

    1.5? Yap betul. Agra tersebut adalah versi pembaruan dari generasi pertama. Saat sesi tanya jawab, gue menanyakan perbedaan antara versi 1 dan 1.5. Jawaban darinya, Agra 1 agak mirip geometri road bike: top tube panjang serta kemiringan steer rack lebih miring, tetapi memiliki dropout sliding khas track bike. Sedangkan Agra 1.5 dibangun berbasis geometri mirip sepeda keirin, yaitu memiliki segitiga belakang dan depan lebih rapat. Kemiringan steer rack lebih tegak membuat frame tersebut lebih agresif serta snappy. Top tube-nya lebih pendek dan agak pursuit. Betul, ‘agak’ pursuit, karena menurutnya frame pursuit murni terasa lebih berat di depan sehingga handling-nya kurang enak akibat bobot pengendara berpindah ke depan. Maka dari itu, desain semi-pursuit dipilih supaya handling masih relatif nyaman.

    Tetapi, frame tersebut bukan entitas standalone penentu beliau selalu merobek karet pembungkus wheelset. Faktor lainnya adalah rasio pilihan; ia menggunakan rasio ngicik 42:15. Selain lebih ringan saat dikayuh, rasio 2.8 tersebut juga relatif lebih mudah di-backpedal guna menghindari obstacle di jalanan ibu kota.

    Setelah bergabung menjadi representatif dari Sakra, ia memilih menggunakan Sakra Kanta 42T. Chainring tersebut belum pernah diganti sejak 2022 setelah menghadiri acara FXCX. Usai memakai sepeda tersebut sebagai tracklocross berbekal cog belakang lebih besar, ia menggantinya menggunakan Sakra Karih 15T demi mendapatkan rasio mirip 47:17.

    Bagian drivetrain lainnya juga mengandalkan komponen badak siap di-abuse tanpa ampun. Izumi Super Toughness, rantai yang sudah mendeskripsikan namanya sendiri, serta Omnium Silver. Crank tersebut terbukti mampu menahan tenaga brutal jauh dari apa yang lo bayangkan sejak 2012.

    Genap 14 tahun di 2026 sejak beliau masuk ke skena fixie, banyak komponen memiliki nilai sentimental baginya. Seperti toe clip tersebut; sejak pertama kali Mas Aji belajar skid, foot retention tersebut menjadi pilihan utama. Pedalset tersebut sekaligus menjadi self-reminder: “never forget when you started riding fixedgear”, kelas bang!

    Enggak cuma toe clip, tapi handlebar bullhorn juga punya nilai sentimental sama buat Mas Aji. Syntace Strattos tersebut sudah jadi incaran beliau sejak lama, menggantikan Nitto RB021 serta Nitto RB010aa miliknya. Dipadukan stem Soma dan seatpost unbrand non-setback, membuat fitting-an pada Agra 1.5 berukuran 50 tersebut tampil agresif sekaligus tetap nyaman menurutnya.

    Selle Italia Turbo posisi super maju tersebut juga termasuk dalam perhitungan ,-an. Selain itu, menurut Mas Aji, posisi seperti itu membuat railing tidak mudah patah lagi seperti San Marco Concor Supercorsa kesayangannya. Meskipun bentuk kedua sadel mirip, beliau sempat skeptis Selle Italia Turbo. Namun karena harga Concor semakin gelap, Turbo menjadi pilihan pengganti. Sekarang, Turbo tersebut menjadi support nomor wahid untuknya.

    Selanjutnya, ke bagian kaki-kaki. Mas Aji menggunakan Rollci R18 Track Hub bersama Rims Rollci GRA21. Ia mendapatkan wheelset tersebut dari Hyper Bike Store untuk keperluan pengujian serta marketing produk. Rims low profile spesifikasi gravel dipadukan hub low flange tersebut terbukti mampu menahan abuse darinya. Untuk karet melingkarnya, ia menjatuhkan pilihan ke Gatorskin di belakang. Menurutnya, cuma ban itu yang mampu menahan joroknya skid beliau. Di depan, ia memasang Conti Ultra Race berkarakter compound mirip GP5K sehingga sangat nge-grip, tetapi ban tersebut kurang durable jika diajak skid. Maka dari itu, ia memasangnya di wheelset depan.

    Dan, begitulah racikan logam dan karet dari Mas Nyoman untuk tunggangan kesayangannya tempurnya. Keputusannya untuk membangun Agra 1.5 ini dengan komponen yang tangguh pada eranya membuatnya menjadi timeless dan bombproof sesuai dengan kebutuhannya. Hope this rig will survive another decade bombing Jakarta Traffic !

    Frame : Pias Agra 1.5 Elitist Red Size 50
    Fork : Stock
    Headset : Chris King No Threadset
    Handlebar : Syntace Strattos
    Stem : Soma SF Forged road Stem
    Bartape : Ritchey
    Crank : Sram Omnium 165mm
    Chainring : Sakra Kanta Track 42T
    Bottom Bracket : Sram GXP
    Pedalset : MKS Sylvan Track + CKC strap + Mash double cage
    Chain : Izumi V Toughness
    Wheelset : Rollci R18 low flange + Rollci GRA21
    Cog : Sakra Karih 15T
    Lockring : Sakra Karambit
    Saddle : Selle Italia Turbo
    Seatpost : Unbrand
    Seat Binder : Stock

    Foto oleh: Fadel Muzakki
    Artikel oleh: Fadel Muzakki

    #trackbike , #fixie , #pias , #sakra , #agra , #rollcii