
Pengkaryaan Mas Dalu selalu bermain-main di area yang menjadi kontradiksi antara “kesementaraan” dan “ketidaksementaraan”, antara “yang sesaat” dan “yang terus ada”, antara “yang tidak terencana” dan “yang direncanakan”, antara “yang sampingan” dan “yang utama”, antara “tampilan yang tampak realistis” dan “tampilan yang dipersiapkan”, antara “visual yang tampak tanpa gaya” dan “visual yang dibuat dengan penggayaan kreatif”. Tapi itu sedikit berbanding terbalik ketika ia membangun sepeda gravel-nya, Engine 11 Dirtee.





Sepeda ini ia bangun pada tahun 2017, karena cedera ankle membuatnya jadi kurang nyaman fixie-an ke mana-mana. Di tahun segitu, genre gravel dan cyclocross memang lagi naik-naiknya, jadi frame ber-tire clearance up to 38C sangat memikat buat beliau. Ukuran segitu ngebuat ia jadi pede gowes ke daerah yang memiliki terrain lebih ancur dari jalanan ibu kota menjadi masuk akal.
Memutuskan untuk menggunakan Sram Rival 1 di sektor grupset, jadi memiliki konfigurasi pas untuk ‘trabasan’. Mengingat 1 chainring di depan bikin tanah enggak gampang ngeganjel. Awalnya, grupset ini menggunakan sprocket road yang memiliki teeth jump lebih rapat. Tetapi saat direyen ke medan cuma di daerah Malasari, rasionya kurang enteng saat digowes. Maka dari itu digunakan sprocket berukuran 11-45 di belakang supaya dapet rasio < 0,99 alias lebih enteng pas diinjek.





Masuk ke bagian kaki-kaki, beliau sedikit memperhatikan aspek kekuatan supaya bisa sembrono, tapi enggak bad trip. H+son Archetype 32 hole dirangkai dengan hub White Industries ber-finishing anodisasi ungu sama persis seperti headset dan bottom bracket. Awalnya seat clamp juga menggunakan WI, tetapi karena crack, ditukar menjadi Phil Seat Clamp. Karet melingkar beliau menggunakan Simworks Homage berkelir Hijau muda, mengkomplementer komponen warna ungu. Waktu ngobrol, Mas Dalu bener-bener yakin kalo dia memilih ban karena warnanya, bukan spesifikasi atau performa yang ditawarkan. Sungguh nyeni!






Enggak nyampe situ aja, bagian bartape juga dibalut bartape cotton pink dan ungu. Kalo ditanya nyaman atau enggak, jawabannya pas. Pas digenggaman karena enggak terlalu bulky dan material cotton juga menyerap keringat kalau beliau gowes dari Depok ke J-Town. Membungkus Deda Super Zero yang terangkai ke stem Thomson. Stem ini memiliki kasus serupa seperti seat clamp, yaitu : crack. Sepertinya, beliau having too much fun sama E11 Dirtee.




Saat ini tunggangannya menjadi salah satu karya yang dibangun dari gabungan logam berwarna ungu dan karet berwarna hijau toska. Sebuah seni eksperimental, mengutamakan aspek keselamatan dan keselarasan. Sebuah pilihan bijak untuk menggabungkan mesin pasca-cedera bersama estetika visual.

Frame : Engine 11 Dirtee
Fork : Stock
Headset : White Industries
Dropbar : Deda Zero 1
Stem : Thomson X4
Saddle : Selle Italia Flite
Seatpost : Thomson Elite
Seat Clamp : Phil
Groupset : Sram Rival 1
Chainring : Sakra Kanta NW 42T
Bottom Bracket : White Industries
Pedal : Crank Brothers Candy 3
Brake Caliper : TRP Spyre
Wheelset : White Industries XMR to H+Son Archetype
Tire : Simworks Homage 700x43C
Frame bag : Sat Set
Foto oleh : Fadel Muzakki
Artikel oleh : Fadel Muzakki
#gravelbike ; #cyclocrossbike ; #engine11 ; #dirtee ; #sakra ; #sramrival1 ; #simworks ; #thomson ; #whiteindustries



















Leave a Reply