Karfianda Suryoutoro – Tsunami SNM 100

Written by

in

IMG_1757
PlayPause
IMG_1757
IMG_1823
IMG_1776
IMG_1842
IMG_1837
IMG_1790
IMG_1814
IMG_1846
IMG_1820
previous arrow
next arrow

Bertahun-tahun menggunakan frame berbahan steel membuat Karfianda, atau kita semua lebih mengenal beliau lewat sapaan akrab Bang Toyor, penasaran terhadap performa rangka aluminium. Pada 2021, ia mendapatkan frame aluminium pertamanya, yaitu Tsunami SNM 100 ini. Dibangun dari material double-butted 6061 yang cukup ringan serta lebih stiff, frame tersebut awalnya dijadikan sebagai sepeda nge-loop.

Tetapi karena menurutnya memiliki dua sepeda di saat bersamaan kurang praktis, ia pun mengalihfungsikan loop machine-nya menjadi tunggangan andalan performa, long ride, nanjak tipis-tipis ke Bogor, commuting #karir, dan tentu saja: gowes ngopi. Tujuan yang berubah demi menyesuaikan kebutuhan, turut diikuti oleh penggantian kombinasi rasio.

Mulai dari 52/17 ke 52/19, lalu mengganti chainring berukuran lebih kecil menjadi 49/19, hingga rasio saat ini yaitu 47/19. Menurutnya, rasio 2,47 cukup memenuhi kebutuhannya membawa tas top tube, dua bidon berukuran 750 ml dan 850 ml, serta rak pannier berisikan seperangkat alat V60.

Menurut gue, penggunaan rak pannier yang dikombinasikan bersama rem adalah pilihan #bijak. Karena ban belakang tertutup oleh barang bawaan, dog skid menjadi mustahil dilakukan. Tapi, berkaca dari informasi sang pemilik, penggunaan rem sudah lama ia lakukan semenjak touring Jakarta–Lombok pada 2013 lalu. Berbekal pengalaman safety sebelumnya, ia memilih menggunakan rem demi mendukung aktivitas looping KPR (Komunitas Pemburu Roadbike).

Bagian brake lever, ia memercayakan Shimano Adamas AX BL-AD10. Kelir rubber hood berwarna abu-abu menjadi alasan utamanya memilih komponen tersebut, supaya senada bersama wheelset Paul x Velocity Deep V miliknya. Sebagai fotografer, beliau pasti mementingkan aspek estetika dari fixie-nya.

Setelah terbungkus patina yang meninggalkan kenangan pada setiap putarannya, ia sangat puas terhadap wheelset miliknya. Menurut ulasannya, Paul Track hub terasa halus banget setelah break-in, mirip hub legendaris Phil Wood. Dirangkai menggunakan rims yang memiliki brake line, sepasang roda tersebut menggantikan wheelset #performa lamanya sebagai commuter harian.

Conti GP Classic berukuran 700×25 menjadi karet pilihan untuk menyelimuti rims tersebut. Dari ulasannya, ban selebar 25c mampu menopang rak Topeak Tetrarack R2 yang diisi gembok, baju ganti, serta keperluan nyeduh. Berbekal setup seperti itu, SNM 100 miliknya benar-benar mirip kendaraan bermotor. Terlebih, penambahan spion pada handlebar bertujuan biar gak perlu nengok-nengok lagi kalau mau belok.

Perintilan estetika paling penting di SNM milik Bang Toyor, buah tangan dari istrinya. Yang mau samaan sabi cek instagram nya : @simpulan__

Frame : Tsunami SNM 100 size 58
Fork : Stock
Headset : Stock
Dropbar : Uno 440mm
Stem : Uno
Bartape : Brooks
Brake Lever : Shimano Adamas
Brake Caliper : Tektro
Crank Arm : Stronglight 2000 Track
Bottom Bracket : Tange Seiki
Chainring : Sakra Kanta Track 47T
Pedal : MKS Sylvan Track
Cage : MKS Nylon Double Gate
FnR Wheelset : Paul Track Hub to Velocity Deep V
Fnr Tire : Continental Grand Prix Classic
Cog : Lasco 19T
Saddle : Selle Italia 1980 Turbo
Seatpost : Nitto Jaguar SP72 Jaguar
Bottle Cage : Supacaz
Front Lamp : Cateye AMPP 800
Handlebar Bag : Riverside Handlebar Bag
Frame Bag : Fairweather : X Pac
Rear Rack : Topeak Tetrarack Rear R2

Foto oleh: Fadel Muzakki
Artikel oleh: Fadel Muzakki


#trackbike , #commuterbike , #fixie , #tsunami , #snm100 , #sakra , #paulcomponent

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2026 Metal and Rubber